Bagian 1.
Orientasi
Saya bertiga mendapat tugas untuk mewanwancarai pegawai kantor bangunan yang menjadi pemborong bangunan-bangunan megah. Kantor itu di cat merah menyala, mencolok dibandiingkan dengan kantor sejenis di komplek itu. Ketika kami masuk, kami melihat lobi kantor yang cukup berantakan. Meski berantakan, fasilitas di kantor itu lengkap. Masih ada sofa yang bisa dipakai untuk duduk. Di belakan lobi ada ruangan tertutup dengan menyisakan lorong untuk masuk ke lantai atas. Di dinding lorong tertempel gambar bangunan -bangunan yang dikerjakan kantor itu.
Salah satu gambar bangunan jatuh dan terinjak kakiku. Bumi seperti bergetar dan saya terseret ke dalam bangunan megah yang belum pernah aku kenal. Bangunan itu terus bergetar.
Komplikasi
Salah satu gambar bangunan jatuh dan terinjak kakiku. Bumi se;perti bergetar dan saya terseret ke dalam bangunan megah yang belum pernah aku kenal. Bangunan itu terus bergetar.
Kudengar ada yang memanggilku, Kak tolong kami. Tampak sekumpulan anak seragam biru putih berlarian. Tersirat ekspresi ketakutan dari mereka saat kulihat beberapa makhluk aneh mengejar mereka di belakang. Pasukan creep mulai memporak-porandakkan banguna di sekitar mereka. Kemudia disusul sebuah makhluk aneh berbadan besar dengan sorot mata mengerikan . tengannya ,e,bawa sebuah rantai panjang yang membelit di sekujur tubuhnya.
“Kak tolong kami!” teriak salah satu anak berlari ke arahku.
“Kenapa harus aku?” tanyaku tidak menegerti. Jujur, aku tidak tahu harus berbuat apa.
“Hanya kaka yang bisa menolong kam, sebelum monster grakk menggila dan menghancurkan tower kami. Jika tower pertahanan kami hancur, kami semua tidak bisa bertahan hidup.”
“Tapi bagaimana aku bisa membantumu dek, aku sendiri tut melihat monster jelek itu.”
“Aku yakin kakak menghadapinya, coba lihat tandadi telapak tangan kiri kakak tergambar sebuah panah yang berarti kakak adalah tutusan yorn,” ucap anak itu penuh harap.
Tiba-tiba grak berjalan mendekat ke arah kami, mengeluarkan skill ultimate hingga membuat lawan yang berada di sekitarnya terhisap tak berdaya. Menyadari aku dihisap, anak itu mendorongku menjauh agar aku tak terisap oleh grakk
Tentu saja aku panik melihat grakk semakin tak terkendali. Aku mencoba berkonstrasi menatap lambang panah di tanganku, berharap apa yang dikatakan anak itu benar.
Entah bagaimana tekhnisnya, hujaman panah mengenai tubuh grakk membuat kekuatannya melemah. Aku kira kekuatanku mulai bekerja. Nyatanya, grakk membuat gerakan memukul permukaan tanah. Kemudian berteriak, “Aku tidak akan membiarkan tanah kelahiranku dibangun bangunan asing untuk umat manusia.” Seketika, bumi sedikit gonjang-ganjing. Grakk mulai murka, mengeluarkan semua kekuatan yang ia punya. Tubuhku tertarik oleh rantai-rantao miliknya. Kemudian, nyawaku seakan terisap oleh kekuatanyya ultimanya.
“Tolong..!!” aku berteriak kencang, kemudian tepukan pelan mendarat di pundakku. Seketika aku tersadar aku sedang berada di tempat yang berbeda.
“Hei bangun!”
Aku terbangun dengan kondisi linglung. Rupanya semua hal yang barusan terjadi cuma mimpi fantasiku saja. Hadeh...
***
Bagian 2
Orientasi.
Dengan tergesa Meza menuju perpustakaan sekolahnya. Tugas dari guru Bahasa Indonesia harus dikumpulkan siang nanti jam ke 7. Padahal dia belum membaca sama sekali buku biografi yang ditugaskan. Perpustakaan masih sepi ketika Meza memasuki perpustakaan. Buru-buru dia berjalan memasuki lorong menuju rak buku Sejarah Indonesia. Namun buku yang ia cari tidak ia temukan. Tak berselang lama, ia melihat salah satu siswa mencatat sesuatu dari buku yang ia cari. Untung saja anak itu sudah selesai dan meletakkannya di meja.
Komplikasi
Dengan cepat diambilnya sebuah buku biografi yang sudah ada di meja baca. Buku itu nampak sedikit lusuh. Dia membaca buku tentang biografi Bung Tomo. Pada halaman ke sepuluh dia ditarik Bung Tomo diajak berjalan-jalan menyaksikan perjuangan pada 10 Nopember 1945. Saat sesuatu terasa berat mengenai indra penglihatannya. Kemudian semuanya terlihat gelap. Saat matanya terbuka kembali, Mea terkejut berada di tengah hiruk-pikuk orang-orang asing. Dilihatnya sosong Bung Tomo sedang berdiri di atas podium. Gema suaranya membuat bulu kuduk Meza merinding saat Bung Tomo meneriakkan kata “Merdeka atau Mati” untuk berjuang demi Indonesia.
Mendengar suara Bung Tomo, entah kenapa hatinya seperti diremas. Ia merasa malu karena selama ini menjadi pemuda yang tidak berguna. Jangankan berjuang untuk Indonesia, berjuang untuk dirinya sendir saja tidak mampu. Selama ini ia baru menyadari menjadi pemuda yang pemalas.
Tiba-tiba seseorang mendorongnya ke depan hingga terjungkal. Perang ternyata sudah dimulai, tubuhya berasa remuk saat orang-orang sempat menginjaknya. Meza berdiri sempoyingan, hingga tak menyadari sebuah timah panas menembus lehernya.
Resolusi
Penglihatan Meza berputar-putar. Bayangan hitamlah yang terakhir kali ia lihat. Namun, sepercik suara membangunkannya kemudian disusul goncangan hingga tubuhnya terpental jatuh menimbulkan suara gedebuk.
“Woi Meza bangu, dicariin malah tidur di perpustakaan. Tuh kan, lagi-lagi ketiduran. Abis bergadang buat game terus sih!” omel Caca tak lain adalah sahabat Meza.
Showing posts with label Antologi Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Antologi Cerpen. Show all posts
Sunday, 14 January 2018
Sunday, 6 March 2016
Mistake Marriage (Arin Story)
Mistake Marriage
(Arin Story)
Di
hari kita berjumpa.
Membeku,
aku berdebar.
Sejak
pertama kali.
Aku
tahu telah kutemukan rumah bagi hatiku.
Berdetak
cepat.
Warna-warni
dan janji-janji.
Bagaimana
agar berani.
Bagaimana
mungkin aku mencinta jika aku takut terjatuh.
Tapi
melihatmu sendirian
Tiba-tiba
semua raguku hilang begitu saja.
Selangkah
lebih dekat
***
“Fokus
Arin, Jonathan sudah menunggumu dibawah dan acara segera dimulai.” Ujar Syarifa
mengingatkan.
Arin
menarik napas dalam-dalam, menguatkan diri agara tenang. Musiknya familier, A
Thousand Years milik Christina Perri versi acapella. Konsentrasinya terpecah
ketika membayangkan Jonathan mengendongnya agar tak pelu repot-repot menggerakkan
kakinya meuju altar. Kini musik terdengar lebih keras dan anggun. Arin
mengenalnya sebagai pertanda bahwa ia harus segera menuju altar.
“Jaga
aku jangan sampai jatuh, Ayah.” bisik Arin perlahan, stiletto putihnya begitu
menyiksanya harus betul-betul menjaga langkahnya, salah sedikit saja stiletto
sialan ini akan menertawakannya karena terjungkal.
Ayahnya
mengangguk. “Melangkah satu-satu. Jangan gugup, rileks Arin sayang,” gumamnya.
Sementara sang ayah menarik tangan Arin agar melingkari tangannya dan
digenggamnya erat-erat pergelangan tangan Arin.
Waktu
begitu berjalan sangat lambat untuk melalui jalan beralaskan permadani merah
yang membawanya ke altar.
Sesekali
Arin melirik bunga-bunga yang sudah menghiasi bak pita-pita mengantung. Deretan
kursi di kanan dan kirinya terlihat beberapa tamu undangan duduk disana, pipinya
semakin merona menyadari saat seluruh kerumunan wajah yang semuanya terfokus
pada Arin. Sampai akhirnya Arin menemukan dia, berdiri bersama pendeta.
Selama
beberapa detik perhatian Arin teralihkan. Yang dilihat hanyalah wajah Jonathan.
Wajahnya memenuhi mata Arin dan menrati pikiran sang pengantin wanita. Mata
hitam Jonatahn berkilau. Wajahnya nyaris
sempurna terlihat tenang didepan semua orang, tapi Arin tahu dia sangat gugup
seperti dirinya. Kemudian saat pandangan matanya bertemu dengan Arin, Jonathan
tersenyum-senyum bahagia yang membuat nafas Arin tercekat.
Tiba-tiba
genggaman Ayahnya terlepas. Jonathan mengulurkan dan Ayah meraih tangan Arin,
seperti tradisi yang sudah belangsung berabad-abad. Meletakkannya di tangan
Jonathan. Arin menyentuh tangan Jonathan yang dingin. Dan sampailah Arin di
tempat seharusnya, altar.
Janji
setia mereka sederhana, kata-kata tradisional yang sudah diucapkan beberapa
juta tahun lalu yang sudah diucapkan jutaan kali meskipun mereka belum pernah
mengucaapkannya. Sebentar lagi.
Arin
menatap mata Jonatahan dalam-dalam saat
pendeta mengucapkan bagiannya.
Sorot
matanya memancarkan kebahagiaan, dan seakan mengajaknya berbicara melalui
matanya bahwa tidak ada hal yang bearti kecuali Jonathan akan bahagia bersama
Arin.
Arin
baru sadar dirinya menangis setelah tiba waktunya mengucapkan janji setia.
“Saya
bersedia,” ujaranya menghembuskan napas
lega akhirnya berhasil mengeuarkan kata yang semenjak tadi tersangkut di
tenggorokannya. Berulang kali ia mengerjab-nerjabmata untuk menyigkirkan air
mata agar bisa melihat wajah Jonathan.
Pendeta
menyatakan mereka sah sebagai suami istri,
kemudian kudua tangan Jonathan terangkat, direngkuhnya wajah Arin
hati-hati. Seolah wajah Arin adalah butiran debu yang akan hilang tertiup
angin. Jonatahan menurunkan kepalanya ke kepala Arin,. Arin berjinjit,
mengalunkan kedua lengannya sambil memegang buket bunga pada leher Jonatahan.
Diciumnya
Arin dengan lembut dan mesra. Keduanya
melupakan para tamu,tempat, waktu dan alasan. Yang mereka ingat hanyalah bahwa
keduanya saling mencintai dan kini saling memiliki.
Para
tamu bersorak, melihat pasangan pengantin baru di depannya. Mereka
menyadarinya, wajah Arin semakin bersemu merah menahan malu.
DOOR!
Jonathan
menoleh seketika mencari sumber suara tersebut, betapa terkejutnya seperti slow
motion melihat seorang sniper mengarahkan senjatanya kearah istrinya. Segera ia
membalikkan dirinya melindungi Arin dari marabahaya yang bisa mengancam orang
yang dicintainya.
***
“Kau
tidak perlu menangis terus-menerus Arin, Jonathan sekarang sudah bahagia di
surga,” hibur Meta sembari menepuk pelan-pelan
bahu putrinya.
“Tapi
ini semua salahku. Tinka itu mengicarku bukan Jonathan. Ini semua salahku Bun.”
“Kita
semua sudah tahu, Jonathan ingin melakukan yang terbaik untukmu. Mungkin
Brother Complex yang dialaminya adiknya membuat ia depresi mengetahui kalian
berdua menikah sementara adik tirinya masih mencintai kakaknya,Jonathan.”
“Jangan
berkata apapun lagi Arin. Adik tirinya sekarang sudah menyesal atas perbuatannya.
Kamu harus tahu itu!”
Arin
menghela nafas sesaat. “Saat aku tahu kamu udah nggak ada, aku selalu berharap
semua itu Cuma mimpi. Aku berharap di
saat aku terbangun, kamu ada disisi aku dan berkata kamu nggak akan pernah
ninggalin aku.” Air mata Arin makin deras.
Arin menatap batu nisan
Jonathan sendu di hadapannya. “Tapi sekarang aku sadar, ternyata kamu pria
paling berharga untuk dicintai banyak orang karena kebaikanmu. Dan sampai deik
ini pun rasa cintaku padamu tidak akan pernah pudar John, malah semakin
bertambah. Aku berjanji aku akan membuat hidupku lebih bermakna untuk diriku
dengan menaburkan kebaikan-kebaikan sepertimu, Jonathan Pramudya.”
END
DEDIKASI CERITA UNTUK
ARIN YANG ENTAH KEMANA MENGHILANG MUNGKIN SEBAGAIK PROJECT MISTAKE MARRIAGE KU UNTUK
KESEKIAN KALINYA, MUNGKIN TINGGAL 1 CERITA LAGI DAN HUTANGKU UDAH
LUNASSSSSSSSSSSSS YEPIIIIII J MAAF KALAU FEELNYA GAK DAPET AKU
NGERASA DENGAN MEMBUAT CERITA PAKE POV ORANG KETIGA SUSAH AMPUN DEH AMBURADUL GINI, GAK BERANI
BANYAK-BANYAK. YA INTINYA SIH MASIH KEMARIN ADA YANG COMENT-COMENT BROTHER
COMPLEX GITU MANGKANYA TERCETUSLAH CERITA INI.
NIGHT J
Gara –gara foto
Kupandangi
berbagai foto selfieku tadi siang saat jam kosong di sekolah bersama kedua
sahabatku, Dita dan Ina. Ternyata lucu juga selfie kami.Ada yang merem,melotot
bareng, duck face sampai gaya ala Pak Jokowi “Salam 2 jari.”
“Kenapa
ngeliatin hp senyam-senyum gitu? Kamu liat vidio porno ya?” selidik kakakku,
Odhi. Astaga ini kakak curiga mulu sama adeknya. Sekarang kami sedang berada di
ruang keluarga sambil menonton sinetron. Seketika kedua orang tuaku langsung
mendelik kearahku meminta penjelasan. Dasar kak Odhi nyebelin.
“Sumpah!
Aku nggak nonton vidio porno Ma..Pa.. kalian percaya deh sama aku. Kak Odhi nih
sembarangan ngomongnya. Tau nggak kak sakitnya tuh disini.” jawabku cemberut
sambil menunjuk dada. Kedua orang tuaku terkekeh melihatku merajuk, sebenarnya
aku kesal diketawain orang tapi nggak apa-apa sih daripada dicurigain liat
video porno kan? Aku langsung bergegas meninggalkan ruang keluarga dan menuju
kamarku tercinta. Nggak kuat deh aku diketawain juga sama si biang kerok, Kak
Odhi.
“Dek,
jangan marah ya sama kakak. Beneran deh tadi kakak cuma asal nebak aja. Tapi
kamu nggak bohong kan?”
“Nih,
coba deh kakak liat bagus nggak?” tanyaku seraya menyodorkan Hp.
“Eh
foto apaan nih? Hapus nggak!” serunya tegas.
“Loh
kok kakak marah sih? Emang ada yang salah apa sama foto ini?”
“Jelas
salah Vira! Kamu tahu nggak-“
“Nggak
tahu aku, kan kakak belum jelasin,” potongku cepat.
“Astaga
Kakak belum ngomong, kamu main potong aja,” ujarnya ketus.
“Hehehehe
Peace Kak.” Kuangkat jari tengah dan telunjuk secara bersamaan membentuk huruf
V.
“Kata
Nenek, ga boleh foto sama orang yang jumlahnya ganjil. Nggak elok bisa jadi
bencana,” jelas kak Odhi dengan ekpresi tak terbaca.
“Maksudnya
Kak?” tanyaku bingung.
“Ini
foto ada 3 orang. Jelas – jelas 3 itu angka ganjil kan? Kau tahu, orang yang
biasanya ditengah dalam posisi foto adalah orang yang sedang terancam bahaya,”
kata Kak Odhi menggebu-gebu.
“Kakak!
Kita ini hidup di zaman modern kenapa masih percaya mitos begituan sih?” jawabku menggerutu.
“Terserah,
buktikan sendiri saja kalau gak percaya,” ucapnya cuek.
Ngeri
juga setelah difikir-fikir. Posisi tenggah dalam foto itu Ina. Semoga saja
tidak terjadi hal buruk seperti kata Kak Odhi.
Keesokan Harinya
“Eh, ini udah bel masuk tapi kemana
ya Ina kok gak masuk? Nggak bawa surat lagi?” tanya Dita spontan.
Tiba-tiba
aku teringat petuah Kak Odhi. Merasa gelisah, aku menceritakan semua obrolanku
dengan Kak Odhi semalam. Dita mendengar semua ocehannku tanpa membantah sedetik
pun, sepertinya dia pendengar yang antusias.
“Aku
sih gak percaya sama mitos begituan, ini kan udah tahun 2014, zaman modern
tau,” kataku masih tetap tidak percaya ucapan Kak Odhi semalam.
“Tapi
siapa tau aja benar Ra,” sahut Dita mulai membuka suara.
“Jangan
jadi provokasi deh Dit,” kataku emosi.
Obrolan
kami terputus karena kedatangan Bu Anita memasuki ruang kelas dengan raut muka
khawatir, tidak seperti biasanya yang selalu kalem dan murah senyum.
“Ada
apa Bu?” tanya salah satu temaku. Ternyata dia juga merasakan perubahan raut
muka Bu Anita.
“Maaf
ya anal-anak... hari ini saya tidak bisa mengajar, sekolah baru saja mendapat
berita bahwa hari ini ada salah satu murid yang mengalami kecelakaan saat
berangkat sekolah. Pihak sekolah belum bisa memastikan siapa, karena itu Ibu
akan memeriksannya dulu bersama Pak Dunny.”
Aku
dan Ditta saling berpandangan. Jangan – jangan...
Kami
berdua serempak pergi ke rumah Ina. Tak peduli lagi dengan teriakan-teriakan Bu
Anita karena meninggalkan sruang kelas tanpa pamit. Kalau harus dihukum, aku
dan Dita akan melaksanakannya nanti. Yang terpenting saat ini adalah mengecek
kondisi keselamatan Ina.
***
Suara
ketukan pintu menyerupai dobrakkan membuat Ina mengumpat kesal. Sekarang ia
cemas kalau mereka perampok atau penculik. Orang tuanya kini sedang berada di
luar kota pula jadi Ina sekarang sendirian. Tapi dipikir-pikir aneh juga kenapa
perampok pake mengetuk pintu segala?
“Ina
bukain pintu, ini aku dan Vira,” teriak Dita dari luar.
Ina
mendesah pelan,setidaknya mereka bukan perampok tapi perusak pintu. Perlahan Ina
memegang handle pintu dan-
Cklek
Aku
dan Dita memelukknya erat sambil menangis tersedu-sedu.
“Kalian
kenapa nangis gitu,” tanya Ina mengerutkan dahi, heran juga kenapa sahabatnya
yang jahil ini tiba-tiba menangisinya. Drama Queen banget!
“Kamu
baik-baik aja kan? Ga luka kan? Aku kira kamu meninggal,” ujar Dita
sesenggukan.
“KURANG
AJAR KALIAN! JADI KALIAN BERDUA KIRA AKU MENINGGAL? AKU SEKARANG SEHAT
WAL’AFIAT. KALAU JAHIL JANGAN KETERLALUAN DONG.”
Aku mencoba memberi penjelasan kepada Ina mengenai
obrolanku dan petuah Kak Odhi mengenai foto selfie kami bertiga dan posisi Ina
yang berada di tengah membuatku takut kalau terjadi petaka dan sialnya Ina
menempati posisi tengah. Untung saja bukan aku.
Beberapa
detik kemudian ekspresi Ina berubah drastis, ia tertawa terpingkal-pingkal
hingga mengeluarkan bulir air mata. Aku dan Dita jadi bingung, apa Ina mulai
gila ya?
“Hei
Vira sejak kapan kamu jadi lugu begini! Kamu gak kapok ya sering dibohongi Kak Odhi,” ucapnya masih tertawa
namun dengan frekuensi lebih rendah.
“Kami
juga panik Ina, kau tahu di sekolah ada murid kecelakaan ketika mau berangkat
sekolah, sekolah belum meastikan siapa siswa kecelakaan itu. Belum lagi
ditambah cerita dari Kak Odi yang pas banget sama sikonnya. Kita kan jadi ngeri
sendiri,” sahut Dita berapi-api. Wah kayanya dita marah diketawain sama Ina kan
biasanya kami yang ngetawain Ina.
“Astaga!
Maafin aku, bukan maksudku buat sahabatku khawatir. Tapi seragam sekolahku gak
tau hilang kemana, mungkin aja masiuh dibawa Mama ke laundry jadi ya aku ga
sekolah mana orang tuaku ga ada lagi.
Dan
buat Kaka Odhi, kayanya ia haruss dikasih pelajaran biar kapok! Sudah kalian
jangan percaya lagi sama omongan Kak Odhi.”
“Maafin
kelakuan konyol Kak Odhi ya? Nanti kita kerjain aja takut-takutin cicak biar
histeris. Oh ya berhubung Ina baik-baik aja, Dita ayo kita kembali lagi ke
sekolah dan menjalani hukuman dari Bu Anita karena sudah meninggalkan
pelajarannya,” seruku mengajakknya pergi.
“Ah
dihukum ya? Kan ga adil Ina bolos kita nggak,” jawabnya polos.
Sontak kami semua
tertawa meratapi kekonyolan kami hanya gara-gara foto.
END
Cerpen - Bisik-Bisik Tetangga
Karya
: Fanda Elvira Rosa
Kabut
asap pagi ini lebih pekat dari sebelumnya, membuat matahari enggan menampilkan
cahahanya di langit negeri berkepala Singa ini. Jalanan terlihat sepi.
Gedung-gedung pencakar langit beberapa diantaranya tutup. Para penduduk
berwajah Tionghoa juga sudah memakai masker. Aku yakin, mereka tidak terbiasa
dengan bau pekat asap yang ada.
“Indonesia
selalu saja membuat ulah. Setiap tahun Singapura selalu saja mendapat getah
asap dari kebakaran hutan dari Indonesia. Beberapa penerbangan terpaksa harus
ditunda hingga tiga jam lagi. Menyusahkan saja!” cibir salah seorang pria
tambun berkulit putih pucat, aku tidak bisa melihat wajahnya jelas karena
tertutup masker.
“Jangan
keras-keras, wanita di ujung sana warga Indonesia. Bisa-bisa rumahmu dibakar
karena ketahuan meledeknya,” bisik si wanita, merangkul mesra si pria tambun.
Pasti kekasihnya.
Jarak
kami terpaut satu meter. Benar saja aku bisa mendengar jelas pembicaraan
mereka. Telingaku rasanya mengeluarkan asap meski tak kasat mata.
Meskipun
tanganku terasa gatal untuk meninju mereka, namun kuurungkan niatku mengingat
lebih baik menunggu kedatangan Antoni daripada melakukan hal bodoh di depan
umum.
“Menunggu
lama sayang?” sebuah suara yang sudah satu minggu kurindukan. Dia mencium
keningku mesra seolah-olah Parkiran Bandara milik kami berdua.
“Tidak,
baru beberapa menit saja. Syukurlah kepulanganmu dari Brunei tidak sampai ditunda
tiga jam lagi.”
***
Ini
pertama kalinya aku menjajakkan kaki di rumah keluarga Antoni, katanya dia
ingin mengenalkanku sebgai pacarnya pada orang tuanya. Aku rasa hubunganku akan
maju selangkah setelah ini.
“Jadi
apa pekerjaan orang tuamu, Nak?” tanya Mama Antoni disela-sela kegiatannya
sedang merajut.
“Kontraktor
di daerah Riau, Tante.”
Mama
Antoni mengangguk. Antoni sendiri hilang entah kemana setelah mengantarku ke
ruang tamu, introgasi pertama calon mantu saat ini membuatku gugup!
“Siapa
nama orang tuamu?” Papa Antoni mulai angkat bicara setelah sibuk menghisap
cerutunya.
“Bintoro
Siregar dan Fardain Siregar, Om.”
Papa
Antoni mengerutkan kening, seolah berfikir lama mengingat sesuatu. Apa mereka
mengenal orang tuaku? Kemudian matanya mendadak berkilat marah dan
meninggalkanku.
DOOR!!
Rasa
sesak menyelimuti dadaku, kali ini bukan karena pekatnya asap. Melainkan sebuah
peluru tepat di bagian jantungku. Kuraba perlahan, darah segar sudah mengalir
menembus kausku. Aku terpenrangah karena Papa Antoni telah menembakku.
“Rasakan
kau Bintoro! Dengan begini kau akan tahu bagaimana rasanya kehilangan anak yang
kau sayangi. Sekarang kita impas setelah membuat bayi kecilku meninggal akibat
asap dan asetku habis kau bakar delapan belas tahun silam,” kata Papa Antoni
tersenyum mengejek. Sementara Antoni dan Mamanya hanya diam membisu.
Dan
kali ini aku salah membenci ulah negaraku hingga harus pindah kuliah di
Singapura. Karena sejatinya, bukan negaraku yang salah. Melainkan para oknum
jahat yang membuat negara tertangga mencibir. Salah satunya Ayahku sendiri,
Bintoro.
SELESAI
Wednesday, 2 March 2016
Cerpen- Mistake Marriage[Desy Story]
Mistake
Marriage Dhessy
Tunjukkan caraku tuk berjuang
Tuk kembali padamu saat kutemukan caranya
Selama ini kau terus disini
Seolah kau adalah cerminku
Cerminku yang membalas tatapanku
***
Semuanya berlalu begitu cepat, tanpa kisah atau apapun. Intinya mereka saling suka .
Dan
pernikahan itu terjadi.
***
“Rumahnya Indah.” gumam Dhesy masih terpesona akan rumah yang akan ditempatinya bersama sang suami.
***
“Rumahnya Indah.” gumam Dhesy masih terpesona akan rumah yang akan ditempatinya bersama sang suami.
“Memang, aku sudah menabung jauh-jauh hariu umtuk membeli rumah masa depan kita.” Sahut Denny tersenyum bangga.
“Benarkah? Bukankah kita bru-baru saja mengenal satu sama lain, bahkan kisah percintaan kita baru berumur jagung dan kita menikah,” jawab Dhesy ragu.
“Oh ayolah sayang, kita baru sampai dan jauhkan pikiran negatifmu padaku.”
“Baiklah...”
***
Entahlah bagaimana menjelaskannya, hubungan pernikahan Dhesy seperti teh tanpa gula. Memang terlihat biasa. Tapi, jujur dalam lubuk hati Dhesy ada sesuatu yang aneh pada Denny.
Seperti ada sesuatu rahasia.
Namun Dhesy belum mampu mencari jawabannya.
“Aku harus keluar kota untuk beberapa hari. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan. Kamu nggak apa kan kalau harus aku tinggal?” tanya Deny disuatu pagi. Hari ini mereka sarapan seperti biasa sebelum Denny harus berangkat ke kantor.
“Nggak masalah. Aku akan baik-baik saja di sini. Kamu hati-hati ya disana,” pesan Dhesy.
“Iya sayang. Aku pergi dulu,” pamit Denny sebelum berangkat tak lupa dikecupnya kening Dhesy penuh kasih.
***
Untuk mengisi rasa bosannya, pagi ini Dhesy berinisiatif membuat dekorasi baru untuk beberapa ruangan rumah barunya.
Sebuah ruangan disebelah ruang kerja Denny membuatnya penasaran. Ada sebuah lemari kayu berukuran sedang menghalangi pintu ruangan tersebut. Mungkin saja ruangannya sengaja ditutup?
Ah
tapi Dhesy tidak mau berkutat terlalu lama dengan rasa penasarannya.
Didiorongnya sekuat tenaga walau hanya bergeser sedikit namun setidaknya ada
celah masuk.
Dhesy takjub dengan apa yang diihatnya kali ini, semua ruangan rumah di sini mengalahkan keseluruhan kamar ini. Walpaper batik bunga kecoklatan menghiasi dinding-dingdingnya, dilengkapi dengan funiture yang sedikit berbeda. Sangat pas dan nyaman sekali di kamar ini. Ia jadi heran sendiri kenapa Denny tidak menjadikan kamar ini sebagai kamar mereka.
“Ah, aku akan minta Denny untuk pindah ke kamar ini saja,” gumamnya senang. Ia bergegas kembali ke kamarnya dan memindah seluruh barang-barang ke kamar barunya ini.
Malam harinya Dhesy sibuk membersihkan diri sebelum tidur. Diusapnya lotion pada kaki jenjangnya yang mulus, terkahir diusapnya lagi pembersih wajah. Ada sesuatu yang aneh ketika Dhesy bercermin, sinar putih menyilaukan matanya menampilkan sesosok wanita menyeramkan sedang melambaikan tangannya seolah menjangkau untuk keluar dari cermin. Dhesy begitu ketakutan. Refleks, ia menghancurkan cermin dengan genggaman tangannya hingga menjadi serpihan-serpihan kecil.
***
Keesokan harinya.
Denny pulang lebih cepat dari perkiraan Dhesy sebelumnya. Lega rasanya ia tidak sendirian lagi dirumah. Semua uneg-unegnya ia sampaikan pada sang suami agar segera pindah rumah karena Dhesy merasa terancam.
“Jangan berfikir yang tidak-tidak! Mungkin saja halusinasimu terlalu berlebihan! Kita tidak akan pindah rumah!” bentak Denny dingin membuat Dhesy tak mampu membatah. Dhesy kembali ke kamar misteri itu untuk mengambil beberapa barang dan begitu terkejutnya dia melihat kaca yang hancurkan semalam utuh seperti semula. Disentuhnya kembali cermin tersebut, wanita itu kembali muncul. Tanpa diduga seseorang mendorongnya dari belakang dan ditariknya Dhesy oleh wanita menyeramkan itu kedalam cermin.
“Terima kasih kau menggantikan posisiku untuk saat ini, aku hanya ingin memiliki ragamu. Akhirnya penantianku terbayar sudah dan aku bisa hidup bahagia bersama Denny, suamiku,” ujar wanita menyeramkan tersebut kemudian bertukar roh dengan Dhesy. Keluarlah wanita itu dari cermin dalam wujud raga Dhesy yang sudah disambut oleh Denny yang sejak awal menjadikan Dhesy tumbal untuk ditukar dengan roh istrinya tanpa jiwa. Sementara Dhesy terperangkap dalam cermin sampai waktu yang tidak ditentukan.
END
Cerpen - Hitam Putih
Hitam
Putih [FandaRosa]
Dua minggu yang lalu.
Sudah ada tugas menunggu di depan mata, namun enggan kukerjakan. Membuat
recount pribadi? Ah apalagi itu.
Tidak terlintas
pengalaman satupun dalam benakku untuk diceritakan. Rasanya seperti mencari
bulan ditengah awan gelap.
“Kau kan bisa membuat
karangan tentang pengalaman liburan bersama keluargamu atau mendapat hadiah
misalnya, itu kan hal mudah bagimu?” usul sahabatku.
“Tidakkah kau ingat aku
sudah berhenti menulis karangan fiksi yang kau maksud. Lagipula aku enggan menulis
sesuatu tentang keluarga,” jawabku datar.
Berkelana tanpa tujuan
menyusuri waktu ketika aku menerawang. Saat kudengar lantunan lagu “selama aku
masih bernafas.” Aku teringat sesuatu. Ku tuliskan saja apa yang kuingat sebagai recount
pribadi.
Menulis recount pribadi tentang bertemu
almarhumah membuatku mimpi buruk. Kuhapus semua tulisan dalam bukuku agar tak
terbayang lagi. Dan beberapa hari kemudian aku menulis recount pribadi baru
dengan judul
Hitam Putih.
Tuesday, 1 March 2016
Cerpen - You Really Love Him, Don’t You? [by. FandaRosa]
You
Really Love Him, Don’t You?
Kini ku tak mampu lagi
Tuk ikuti caramu
Hanya membuatku sakit
hati
Kini ku tak mau lagi
Jalanmu bukan jalanku
Dan kau telah memilih
***
Sofia
sedang berdiri di ujung lorong kelas IPS,menunggu Andy. Sedangkan Andy, berdiri
di depan pintu kelasnya sendiri. Jaraknya dua ruang kelas dari sini. Mengenakan
jaket dan membawa tas ranselnya.
Sofia
menatapnya, menungggu dia untuk mendongak.
Saat
mendongak, mata mereka saling bersitatap. Kemudian Andy melengos pergi tanpa
menyapa Sofia. Ternyata Andy benar-benar marah padanya.
“Andy!”
panggilnya, Andy menoleh seketika.
“Apa?”
jawab Andy ketus.
“Kamu
salah faham Dy, kejadian sebenarnya nggak seperti yang kamu kira. Coba kamu
dengerin penjelasan aku dulu,” ujar Sofia namun Andy tak menghiraukan.
“Aku
capek dengerin kamu terus, aku capek bertengkar terus sama kamu tahu nggak? Dasar
egois!” ungkap Andy.
“Apa
kamu bilang? Aku egois? andai kamu tahu aku lebih capek jadi posisi seperti
ini. Kamu kira hubungan kita itu layangan? Bisa kamu tarik ulur sesuka hatimu.
Coba kamu lihat dirimu dulu!“ suara Sofi naik satu oktaf. Dadanya bergemuruh.
Bagaimana bisa Andy berkata demikian?
Andy
mendengus. Sementara Sofi hanya menghembuskan nafasnya perlahan. “Jika kita
memang hanya bisa menyakiti satu sama lain. Mungkin jalan kita untuk bersama
tak mungkin lagi bisa dijembatani. Sebaiknya kita akhiri saja hubungan ini.”
“Maksud
kamu putus?” tanya Andy memastikan.
Sofi
mengangguk.
“Dengarkan aku!” suara Andy berubah sehalus
beludru. Bernada membujuk. “Jangan membuat keputusan selagi emosimu menguasai
pikiranmu.”
Sofi
mengeleng-gelengkan kepalanya pelan. Sepertinya ia tidak menyadarinya. “Itu
yang terbaik. Aku harap setelah ini kita bisa menjadi teman baik,tanpa melibatkan
perasaan satu sama lain.” jawab Sofi, mengarahkan perhatiannya pada ekspresi
Andy yang terlalu terkejut.
Terdengar
langkah-langkah Sofi yang berat menghantam ubin marmer yang keras. Beberapa
detik kemudian ia sudah menghilang dari
hadapan Andy.
***
Diketukknya pulpen diatas buku kimia yang terbuka lebar.
Pikirannya
masih melayang jauh ke Sofi
Dia
bilang kita bisa jadi teman baik,tanpa melibatkan perasaan satu sama lain.
Jadi, mereka sekarang cuma teman?
Andy
menghela nafas pelan. Entah mengapa ini begitu menyebalkan.
“Kenapa
sih lo? Galau amat.”
Andy
menoleh.
Cowok
tengik ini lagi, Handoko Dwi Putra. Namun maunya dipanggil Roy, aneh kan?
Andy
hanya tersenyum kecil menanggapi perkataannya.Dan Handoko alias Roy kembali
menyembunyikan wajah kantuknya dengan buku kimia yang terbuka lebar agar
menghalangi Pak Suryo saat mengajar.
“Jangan lupa PPnya,
alias pajak putus!” bisik Roy dihadiahi
jitakan beruntun dari Andy.
***
“Yang aku inginkan hanya hidup
tenang tanpa ada dirinya,untuk saat ini tanpa dirinya. Hidup tanpa warna dan
hambar seperti sebelum bertemu dengannya yang jauh lebih baik dibandingkan
hidup dipenuhi warna dan rasa tapi membuatku tersiksa.
Tapi apa iya aku mau kembali ke
hidupku dulu? Hidupku tanpa dirinya,setelah dia memberikanku berbagai rasa yang
tidak hanya sakit namun juga bahagia?”
(Precious_unicron91)
***
“Aku tahu. Aku
memang tidak yakin dia mau mendengarmu, tapi... kau tetap harus berusaha .
keadaannmu sudah lebih baik?” Yura mendesis, melihat sahabatnya mulai bergumam
sendirian saat duduk di tepian gazebo. Ternyata tatapannya tertuju pada kiper
bola, Andy.
Suara
dan mata Sofia hampa. “Semakin parah,” desahnya. Kemudian ia bangkit dari
duduknya ketika mendengar bel berbunyi. ”Mari kita masuk kelas.”
Andy
dan teman-temannnya mulai mundur dari lapangan menuju kelas. Sebelum mereka
masuk kelas, Sofia sudah berbalik dan berlari ke barat menghindari lorong utama
yang sering dilalui Andy. Meninggalkan Yura yang masih terbengong-bengong.
***
“Dasar
cewek gesrek, main ngibrit aja gue
ditinggal,” gerutu Yura masih dongkol mengingat kelakuan Sofia beberapa menit
yang lalu.
“Yaaaahh
sory deh, tadi kan udah bel masuk. Tau sendiri kan bentar lagi jam pelajaran
Ekonomi. Udah ah ngomongnya gurunya dateng tuh!” kata Sofia sambil mengarahkan
dagunya kearah pintu.
Yeah
memang benar
Suasana
kelas mendadak sunyi. Dua kipas angin mendadak berhenti berputar.
“Suatu
ketika bla...bla...bla...” dan mengalirlah penjelasan guru satu ini dalam
kalimat-kalimat ringkas yang sudah pasti membuat gelak tawa seisi kelas.
“Ck! Gue gak mau tau lo masih utang penjelasan
sama gue.”
“Iyeh
Mpok Yure entar diceritain kronologisnye, tapi traktir bakso ya istirahat
kedua?” goda Sofia dengan lagak betawinya yang dibuat-buat.
Yura
berdecak pelan.”Okelah nggak masalah,mau berapa mangkuk pun gue jabanin deh.”
Sofia
merenggut kesal. “Dasar belagu!” Yura yang mendengar cibiran sahabatnya
terkekeh pelan.
***
Asap
mengepul dari mangkuk bakso bergambar ayam jago pesanan Sofia. Kemudian disusul
dentingan suara garpu dan sendok sedang beradu saat ia mengiris lontong menjadi
bulatan kecil.
“Mana
sambelnya Pakdhe?” teriak Sofia sudah tak sabar, mumpung gratis.
“Dasar
mantan preman, nggak usah pake teriak! Tuh sambel udah di sebelah lo, katarak
ya?” cibir Yura.
Sofia
mendesis,mencondongkan tubuhnya ke samping mengambil sambel dituangkan dua
sendok sambal ke dalam baksonya. Kemudian ia tak berbicara apa-apa lagi.
Beberapa
menit kemudian isi bakso sudah tandas sekarang perutnya kenyang sekaligus
hatinya senang.”Yura, Trims.”
“Cepet
cerita Sofia!!!”
“Eh?
Masih inget aja.Sebenarnya itu gue sama Andy udah putus. Dia cemburu lagi waktu
gue sms temannya. Rencananya sih mau bikin kejutan ulang tahunnya.Tapi... ya
begitulah lagi-lagi dia gak mau dengerin penjelasan gue, malah ngatain gue
egois.”
“Andy
tau dari mana lo sms sama cowok lain?” kata Yura menginstrupsi.
“Ehm-”
belum sempat Sofia melanjutkan ceritanya terdengar gelak tawa beberapa kumpulan
siswa yang ia kenal. Sofia buru-buru pamit meninggalkan kantin.
Perlahan
tapi pasti bayangan Sofia mulai menghilang dari kerumunan kantin yang penuh
sesak. Berselang beberapa detik, rombongan Andy memasuki kantin.
Pantas
saja Sofia buru-buru pergi.
“Andy!”
panggil Yura.
“Ada
apa?”
“Jadi
lo lebih suka pesimis dan berdiam saja daripada memperbaiki hubungan kalian. Cobalah
kalian mau mendengarkan dan memahami apa yang hati kalian inginkan satu sama
lain. Masih sayang nggak sama Sofia? Gue pergi dulu!”
***
Sepulang
sekolah, Andy dan Sofia saling berhadapan meski terbentang jarak yang jauh. Andy bergegas berlari menghindari
kejaran teman-temannya yang ramai-ramai membawa telur dan terigu dalam
genggamnnya. Andy terlihat lelah berdiri di beranda sekolah, diapit Tommy dan
Roy.
Sebenarnya
Sofia berniat meninggalkan sekolah, namun diurungkan niatnya ketika logikanya
kalah dengan rasa penasaran sekaligus..kangen?
Terdengar
alunan gitar dalam kerumunan Andy. Sofia masih memantau dari jarak jauh mungkin
menyanyikan lagu “Happy Birthdays”
Sofia
memperlambat langkahnya untuk pergi, Andy mendengking pelan memanggil namanya.
Ragu –ragu Sofia berbalik.
Kan
ku utarakan kepadamu
Semua
yang ada dihatiku
Andy
kemudian bernyanyi, dibiarkannya pikirannya mengingat lagi konfrontasinya
dengan mantan kekasihnya beberapa hari lalu.Sofia ingat saat pertemuan pertamanya
di hari pertamanya masuk ke dalam relung hatinya.
Aku
mencintai kamu
Kan
kusayangi kau sampai akhir didunia
Dan
saat itu dia menggandeng tangannya pertama kali.
Dan
kujadikan kamu wanita
Paling
bahagia di seluruh dunia
Karena
kamulah satu-satunya.
Ada
gelnyar aneh dalam yang tak bisa diungkapkan Sofia.
Mengingat
cara Andy tersenyum, nafasnya mendadak tersendat.
Jadi
terimalah oh cintaku
Jangan
kau patahkan hatiku
Saat
itu entah kenapa Sofi teringat saat Andy menyatakan perasaanya.
Aku
menicntai kamu
Dengarkan
janjiku
Kan
kusayangi kau sampai akhir dunia
Dan
ku jadikan kamu wanita
Paling
bahagia di seluruh dunia
Karena
kamulah satu-satunya
Kan
kusayangi kau sampai akhir dunia
Dan
ku jadikan kamu wanita
Paling
bahagia di seluruh dunia
-Armada-
“Aku
tidak tahu. Aku tidak bisa mempercayaimu Andy,aku bahkan tidak bisa mempercayai
diriku sendiri saat ini. Aku tidak tahu mana yang harus aku dengar, otak atau
hatiku.
Sebagian
hatiku, belum bisa menerima permintaan maafmu. Meskipun aku tahu kamu jujur dan
tulus saat mengatakan semuanya,” Sofia mengusap air matanya secara kasar. Ia
tak mau terlihat kalah di depan mantan kekasihnya ini.
“Aku
masih ingat dengan jelas senyum kamu,tawa kamu, suara kamu, dan tangisanmu,”
Andy mengusap bulir-bulir air mata Sofia. Ia menghela nafas sebentar. “Saat aku
tahu kamu udah nggak bersamaku lagi, aku selalu berharap semua itu cuma mimpi.
Aku berharap di saat terbangun, kamu ada disisi aku dan berkata kamu nggak akan
pernah ninggalin aku. Kamu mau kita balikan lagi?” ungkap Andy nyaris berbisik
namun membuat air mata Sofia semakin deras.
Sofia
menatap rerumputan di hadapannya yang bergoyang lembut. “Tapi sekarang aku
sadar, ternyata kamu benar. Selama ini kamu selalu menunggu aku. Dan pada saat
aku sadar, aku nggak bisa menghentikan rasa sayangku ke kamu.”
Riuh
tepuk tangan teman-teman yang awalnya ingin menghujani Andy tepung beralih
menjadi tontonan gratis roman picisan membuat semunya envy.
“Dan
untuk Roy kutu kupret,” ujar Andy memasang ekspresi segarang mungkin yang
terlihat dibuat-buat.
“Aku
sudah banyak membantu sahabatku,” Roy memelas sudah tahu apa yang terjadi
selanjutnya.
“Hai
teman-teman, mau aku traktir nggak?” teriak Andy tiba-tiba.
“MAUUUUU.”
jawab semuanya kompak.
“Boleh
minta satu permintaan? Berhubung Roy yang menjadi kambing hitam dibalik putus
sekaligus nyambungnya hubungan kami,
Please. Telur sama terigu kalian alihkan aja ke Roy ya?”
“SIAPP
BOSS.”
“Aku
masih nggak ngerti, apa maksudmu Roy deketin aku biar kamu cemburu gitu?”
“Seperti
itu.” ucap Andy acuh meninggalkankan semua teman-temannya. “Yuk pulang!”
“Tapi
– “ Sofia mendadak bungkam saat tangan hangat Andy sudah menggenggam tangannya.
Ia tersenyum simpul melihat hubungan mereka kembali baik-baik saja. Yura
mengedipkan matanya ketika kami sempat berpapasan dengannya, aku tahuarti
kedipan itu. Thanks Yura udah bantuin aku. Sekarang aku percaya kata-kata Yura
yang sempat membuatku selalu menyangkalnya.
“Percaya
deh,bakal dateng saatnya lo akan ketemu dia yang PAS banget sama lo. Lo bisa
bener-bener jadi diri lo tanpa rasa jaim dan dia bakal terima lo. Yang
pasti selama lo percaya diri dan jadi
diri lo sendiri, dia bakal dateng tanpa lo cariin.” Begitulah kata Yura yang
masih diingat Sofia.
END
@dedikasi
story untuk SOfia- anDY
Sekedar
cerita mini pengisi waktu insomia disaat mendengarkan lagu perpisahan sekaligus
perjuangan sepasang kekasih untuk menyusun kembali kepingan kenangan lagi untuk
bisa bersama kembali. Hanya itu. Salam manis J
20/05/2015
1:23
Revisi
11/12/15
05:03
Subscribe to:
Posts (Atom)




