Showing posts with label Antologi Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Antologi Cerpen. Show all posts

Sunday, 14 January 2018

Memperbaiki Cerita Fantasi yang Rumpang

Bagian 1.

Orientasi

Saya bertiga mendapat tugas untuk mewanwancarai pegawai kantor bangunan yang menjadi pemborong bangunan-bangunan megah. Kantor itu di cat merah menyala, mencolok  dibandiingkan dengan kantor sejenis di komplek itu. Ketika kami masuk, kami melihat lobi kantor yang cukup berantakan. Meski berantakan, fasilitas di kantor itu lengkap. Masih ada sofa yang bisa dipakai untuk duduk. Di belakan lobi ada ruangan tertutup dengan menyisakan lorong untuk masuk ke lantai atas. Di dinding lorong tertempel gambar bangunan -bangunan yang dikerjakan kantor itu.

Salah satu gambar bangunan jatuh dan terinjak kakiku. Bumi seperti bergetar dan saya terseret ke dalam bangunan megah yang belum pernah aku kenal. Bangunan itu terus bergetar.

Komplikasi

Salah satu gambar bangunan jatuh dan terinjak kakiku. Bumi se;perti bergetar dan saya terseret ke dalam bangunan megah yang belum pernah aku kenal. Bangunan itu terus bergetar.

Kudengar ada yang memanggilku, Kak tolong kami. Tampak sekumpulan anak seragam biru putih berlarian. Tersirat ekspresi ketakutan dari mereka saat kulihat beberapa makhluk aneh mengejar mereka di belakang. Pasukan creep mulai memporak-porandakkan banguna di sekitar mereka. Kemudia disusul sebuah makhluk aneh berbadan besar dengan sorot mata mengerikan . tengannya ,e,bawa sebuah rantai panjang yang membelit di sekujur tubuhnya.

“Kak tolong kami!” teriak salah satu anak berlari ke arahku.

“Kenapa harus aku?” tanyaku tidak menegerti. Jujur, aku tidak tahu harus berbuat apa.

“Hanya kaka yang bisa menolong kam, sebelum monster grakk menggila dan menghancurkan tower kami. Jika tower pertahanan kami hancur, kami semua tidak bisa bertahan hidup.”

“Tapi bagaimana aku bisa membantumu dek, aku sendiri tut melihat monster jelek itu.”

“Aku yakin kakak menghadapinya, coba lihat tandadi telapak tangan kiri kakak tergambar sebuah panah yang berarti kakak adalah tutusan yorn,” ucap anak itu penuh harap.

Tiba-tiba grak berjalan mendekat ke arah kami, mengeluarkan skill ultimate hingga membuat lawan yang berada di sekitarnya terhisap tak berdaya. Menyadari aku dihisap, anak itu mendorongku menjauh agar aku tak terisap oleh grakk
Tentu saja aku panik melihat grakk semakin tak terkendali. Aku mencoba berkonstrasi menatap lambang panah di tanganku, berharap apa yang dikatakan anak itu benar.

Entah bagaimana tekhnisnya, hujaman panah mengenai tubuh grakk membuat kekuatannya melemah. Aku kira kekuatanku mulai bekerja. Nyatanya, grakk membuat gerakan memukul permukaan tanah. Kemudian berteriak, “Aku tidak akan membiarkan tanah kelahiranku dibangun bangunan asing untuk umat manusia.” Seketika, bumi sedikit gonjang-ganjing. Grakk mulai murka, mengeluarkan semua kekuatan yang ia punya. Tubuhku tertarik oleh rantai-rantao miliknya. Kemudian, nyawaku seakan terisap oleh kekuatanyya ultimanya.

“Tolong..!!” aku berteriak kencang, kemudian tepukan pelan mendarat di pundakku. Seketika aku tersadar aku sedang berada di tempat yang berbeda.

“Hei bangun!”

Aku terbangun dengan kondisi linglung. Rupanya semua hal yang barusan terjadi cuma mimpi fantasiku saja. Hadeh...

***

Bagian 2

Orientasi.

Dengan tergesa Meza menuju perpustakaan sekolahnya. Tugas dari guru Bahasa Indonesia harus dikumpulkan siang nanti jam ke 7. Padahal dia belum membaca sama sekali buku biografi yang ditugaskan. Perpustakaan masih sepi ketika Meza memasuki perpustakaan. Buru-buru dia berjalan memasuki lorong menuju rak buku Sejarah Indonesia. Namun buku yang ia cari tidak ia temukan. Tak berselang lama, ia melihat salah satu siswa mencatat sesuatu dari buku yang ia cari. Untung saja anak itu sudah selesai dan meletakkannya di meja.

 Komplikasi

Dengan cepat diambilnya sebuah buku biografi yang sudah ada di meja baca. Buku itu nampak sedikit lusuh. Dia membaca buku tentang biografi Bung Tomo. Pada halaman ke sepuluh dia ditarik Bung Tomo diajak berjalan-jalan menyaksikan perjuangan pada 10 Nopember 1945. Saat sesuatu terasa berat mengenai indra penglihatannya. Kemudian semuanya terlihat gelap. Saat matanya terbuka kembali, Mea terkejut berada di tengah hiruk-pikuk orang-orang asing. Dilihatnya sosong Bung Tomo sedang berdiri di atas podium. Gema suaranya membuat bulu kuduk Meza merinding saat Bung Tomo meneriakkan kata “Merdeka atau Mati” untuk berjuang demi Indonesia.
Mendengar suara Bung Tomo, entah kenapa hatinya seperti diremas. Ia merasa malu karena selama ini menjadi pemuda yang tidak berguna. Jangankan berjuang untuk Indonesia, berjuang untuk dirinya sendir saja tidak mampu. Selama ini ia baru menyadari menjadi pemuda yang pemalas.

Tiba-tiba seseorang mendorongnya ke depan hingga terjungkal. Perang ternyata sudah dimulai, tubuhya berasa remuk saat orang-orang sempat menginjaknya. Meza berdiri sempoyingan, hingga tak menyadari sebuah timah panas menembus lehernya.

Resolusi

Penglihatan Meza berputar-putar. Bayangan hitamlah yang terakhir kali ia lihat. Namun, sepercik suara membangunkannya kemudian disusul goncangan hingga tubuhnya terpental jatuh menimbulkan suara gedebuk.

“Woi Meza bangu, dicariin malah tidur di perpustakaan. Tuh kan, lagi-lagi ketiduran. Abis bergadang buat game terus sih!” omel Caca tak lain adalah sahabat Meza.

Sunday, 6 March 2016

Mistake Marriage (Arin Story)

Mistake Marriage (Arin Story)



Di hari kita berjumpa.
Membeku, aku berdebar.
Sejak pertama kali.
Aku tahu telah kutemukan rumah bagi hatiku.
Berdetak cepat.
Warna-warni dan janji-janji.
Bagaimana agar berani.
Bagaimana mungkin aku mencinta jika aku takut terjatuh.
Tapi melihatmu sendirian
Tiba-tiba semua raguku hilang begitu saja.
Selangkah lebih dekat

***
“Fokus Arin, Jonathan sudah menunggumu dibawah dan acara segera dimulai.” Ujar Syarifa mengingatkan.

Arin menarik napas dalam-dalam, menguatkan diri agara tenang. Musiknya familier, A Thousand Years milik Christina Perri versi acapella. Konsentrasinya terpecah ketika membayangkan Jonathan mengendongnya agar tak pelu repot-repot menggerakkan kakinya meuju altar. Kini musik terdengar lebih keras dan anggun. Arin mengenalnya sebagai pertanda bahwa ia harus segera menuju altar.

“Jaga aku jangan sampai jatuh, Ayah.” bisik Arin perlahan, stiletto putihnya begitu menyiksanya harus betul-betul menjaga langkahnya, salah sedikit saja stiletto sialan ini akan menertawakannya karena terjungkal.

Ayahnya mengangguk. “Melangkah satu-satu. Jangan gugup, rileks Arin sayang,” gumamnya. Sementara sang ayah menarik tangan Arin agar melingkari tangannya dan digenggamnya erat-erat pergelangan tangan Arin.

Waktu begitu berjalan sangat lambat untuk melalui jalan beralaskan permadani merah yang membawanya ke altar.

Sesekali Arin melirik bunga-bunga yang sudah menghiasi bak pita-pita mengantung. Deretan kursi di kanan dan kirinya terlihat beberapa tamu undangan duduk disana, pipinya semakin merona menyadari saat seluruh kerumunan wajah yang semuanya terfokus pada Arin. Sampai akhirnya Arin menemukan dia, berdiri bersama pendeta.

Selama beberapa detik perhatian Arin teralihkan. Yang dilihat hanyalah wajah Jonathan. Wajahnya memenuhi mata Arin dan menrati pikiran sang pengantin wanita. Mata hitam Jonatahn berkilau. Wajahnya  nyaris sempurna terlihat tenang didepan semua orang, tapi Arin tahu dia sangat gugup seperti dirinya. Kemudian saat pandangan matanya bertemu dengan Arin, Jonathan tersenyum-senyum bahagia yang membuat nafas Arin tercekat.

Tiba-tiba genggaman Ayahnya terlepas. Jonathan mengulurkan dan Ayah meraih tangan Arin, seperti tradisi yang sudah belangsung berabad-abad. Meletakkannya di tangan Jonathan. Arin menyentuh tangan Jonathan yang dingin. Dan sampailah Arin di tempat seharusnya, altar.

Janji setia mereka sederhana, kata-kata tradisional yang sudah diucapkan beberapa juta tahun lalu yang sudah diucapkan jutaan kali meskipun mereka belum pernah mengucaapkannya. Sebentar lagi.

Arin menatap mata Jonatahan  dalam-dalam saat pendeta mengucapkan bagiannya.  

Sorot matanya memancarkan kebahagiaan, dan seakan mengajaknya berbicara melalui matanya bahwa tidak ada hal yang bearti kecuali Jonathan akan bahagia bersama Arin.

Arin baru sadar dirinya menangis setelah tiba waktunya mengucapkan janji setia.

“Saya bersedia,”  ujaranya menghembuskan napas lega akhirnya berhasil mengeuarkan kata yang semenjak tadi tersangkut di tenggorokannya. Berulang kali ia mengerjab-nerjabmata untuk menyigkirkan air mata agar bisa melihat wajah Jonathan.

Pendeta menyatakan mereka sah sebagai suami istri,  kemudian kudua tangan Jonathan terangkat, direngkuhnya wajah Arin hati-hati. Seolah wajah Arin adalah butiran debu yang akan hilang tertiup angin. Jonatahan menurunkan kepalanya ke kepala Arin,. Arin berjinjit, mengalunkan kedua lengannya sambil memegang buket bunga pada leher Jonatahan.

Diciumnya Arin dengan lembut dan mesra.  Keduanya melupakan para tamu,tempat, waktu dan alasan. Yang mereka ingat hanyalah bahwa keduanya saling mencintai dan kini saling memiliki.

Para tamu bersorak, melihat pasangan pengantin baru di depannya. Mereka menyadarinya, wajah Arin semakin bersemu merah menahan malu.
DOOR!

Jonathan menoleh seketika mencari sumber suara tersebut, betapa terkejutnya seperti slow motion melihat seorang sniper mengarahkan senjatanya kearah istrinya. Segera ia membalikkan dirinya melindungi Arin dari marabahaya yang bisa mengancam orang yang dicintainya.

***
“Kau tidak perlu menangis terus-menerus Arin, Jonathan sekarang sudah bahagia di surga,” hibur Meta sembari menepuk pelan-pelan  bahu putrinya.

“Tapi ini semua salahku. Tinka itu mengicarku bukan Jonathan. Ini semua salahku Bun.”

“Kita semua sudah tahu, Jonathan ingin melakukan yang terbaik untukmu. Mungkin Brother Complex yang dialaminya adiknya membuat ia depresi mengetahui kalian berdua menikah sementara adik tirinya masih mencintai kakaknya,Jonathan.”

“Jangan berkata apapun lagi Arin. Adik tirinya sekarang sudah menyesal atas perbuatannya. Kamu harus tahu itu!”

Arin menghela nafas sesaat. “Saat aku tahu kamu udah nggak ada, aku selalu berharap semua itu Cuma mimpi. Aku berharap  di saat aku terbangun, kamu ada disisi aku dan berkata kamu nggak akan pernah ninggalin aku.” Air mata Arin makin deras.
Arin menatap batu nisan Jonathan sendu di hadapannya. “Tapi sekarang aku sadar, ternyata kamu pria paling berharga untuk dicintai banyak orang karena kebaikanmu. Dan sampai deik ini pun rasa cintaku padamu tidak akan pernah pudar John, malah semakin bertambah. Aku berjanji aku akan membuat hidupku lebih bermakna untuk diriku dengan menaburkan kebaikan-kebaikan sepertimu, Jonathan Pramudya.”
END

DEDIKASI CERITA UNTUK ARIN YANG ENTAH KEMANA MENGHILANG MUNGKIN SEBAGAIK PROJECT MISTAKE MARRIAGE KU UNTUK KESEKIAN KALINYA, MUNGKIN TINGGAL 1 CERITA LAGI DAN HUTANGKU UDAH LUNASSSSSSSSSSSSS YEPIIIIII J MAAF KALAU FEELNYA GAK DAPET AKU NGERASA DENGAN MEMBUAT CERITA PAKE POV ORANG KETIGA SUSAH  AMPUN DEH AMBURADUL GINI, GAK BERANI BANYAK-BANYAK. YA INTINYA SIH MASIH KEMARIN ADA YANG COMENT-COMENT BROTHER COMPLEX GITU MANGKANYA TERCETUSLAH CERITA INI.
NIGHT J


Gara –gara foto


Kupandangi berbagai foto selfieku tadi siang saat jam kosong di sekolah bersama kedua sahabatku, Dita dan Ina. Ternyata lucu juga selfie kami.Ada yang merem,melotot bareng, duck face sampai gaya ala Pak Jokowi “Salam 2 jari.”
“Kenapa ngeliatin hp senyam-senyum gitu? Kamu liat vidio porno ya?” selidik kakakku, Odhi. Astaga ini kakak curiga mulu sama adeknya. Sekarang kami sedang berada di ruang keluarga sambil menonton sinetron. Seketika kedua orang tuaku langsung mendelik kearahku meminta penjelasan. Dasar kak Odhi nyebelin.
“Sumpah! Aku nggak nonton vidio porno Ma..Pa.. kalian percaya deh sama aku. Kak Odhi nih sembarangan ngomongnya. Tau nggak kak sakitnya tuh disini.” jawabku cemberut sambil menunjuk dada. Kedua orang tuaku terkekeh melihatku merajuk, sebenarnya aku kesal diketawain orang tapi nggak apa-apa sih daripada dicurigain liat video porno kan? Aku langsung bergegas meninggalkan ruang keluarga dan menuju kamarku tercinta. Nggak kuat deh aku diketawain juga sama si biang kerok, Kak Odhi.
“Dek, jangan marah ya sama kakak. Beneran deh tadi kakak cuma asal nebak aja. Tapi kamu nggak bohong kan?”
“Nih, coba deh kakak liat bagus nggak?” tanyaku seraya menyodorkan Hp.
“Eh foto apaan nih? Hapus nggak!” serunya tegas.
“Loh kok kakak marah sih? Emang ada yang salah apa sama foto ini?”
“Jelas salah Vira! Kamu tahu nggak-“
“Nggak tahu aku, kan kakak belum jelasin,” potongku cepat.
“Astaga Kakak belum ngomong, kamu main potong aja,” ujarnya ketus.
“Hehehehe Peace Kak.” Kuangkat jari tengah dan telunjuk secara bersamaan membentuk huruf V.
“Kata Nenek, ga boleh foto sama orang yang jumlahnya ganjil. Nggak elok bisa jadi bencana,” jelas kak Odhi dengan ekpresi tak terbaca.
“Maksudnya Kak?” tanyaku bingung.
“Ini foto ada 3 orang. Jelas – jelas 3 itu angka ganjil kan? Kau tahu, orang yang biasanya ditengah dalam posisi foto adalah orang yang sedang terancam bahaya,” kata Kak Odhi menggebu-gebu.
“Kakak! Kita ini hidup di zaman modern kenapa masih percaya mitos begituan sih?”  jawabku menggerutu.
“Terserah, buktikan sendiri saja kalau gak percaya,” ucapnya cuek.
Ngeri juga setelah difikir-fikir. Posisi tenggah dalam foto itu Ina. Semoga saja tidak terjadi hal buruk seperti kata Kak Odhi.
Keesokan Harinya
            “Eh, ini udah bel masuk tapi kemana ya Ina kok gak masuk? Nggak bawa surat lagi?” tanya Dita spontan.
Tiba-tiba aku teringat petuah Kak Odhi. Merasa gelisah, aku menceritakan semua obrolanku dengan Kak Odhi semalam. Dita mendengar semua ocehannku tanpa membantah sedetik pun, sepertinya dia pendengar yang antusias.
“Aku sih gak percaya sama mitos begituan, ini kan udah tahun 2014, zaman modern tau,” kataku masih tetap tidak percaya ucapan Kak Odhi semalam.
“Tapi siapa tau aja benar Ra,” sahut Dita mulai membuka suara.
“Jangan jadi provokasi deh Dit,” kataku emosi.
Obrolan kami terputus karena kedatangan Bu Anita memasuki ruang kelas dengan raut muka khawatir, tidak seperti biasanya yang selalu kalem dan murah senyum.
“Ada apa Bu?” tanya salah satu temaku. Ternyata dia juga merasakan perubahan raut muka Bu Anita.
“Maaf ya anal-anak... hari ini saya tidak bisa mengajar, sekolah baru saja mendapat berita bahwa hari ini ada salah satu murid yang mengalami kecelakaan saat berangkat sekolah. Pihak sekolah belum bisa memastikan siapa, karena itu Ibu akan memeriksannya dulu bersama Pak Dunny.”
Aku dan Ditta saling berpandangan. Jangan – jangan...
Kami berdua serempak pergi ke rumah Ina. Tak peduli lagi dengan teriakan-teriakan Bu Anita karena meninggalkan sruang kelas tanpa pamit. Kalau harus dihukum, aku dan Dita akan melaksanakannya nanti. Yang terpenting saat ini adalah mengecek kondisi keselamatan Ina.
***
Suara ketukan pintu menyerupai dobrakkan membuat Ina mengumpat kesal. Sekarang ia cemas kalau mereka perampok atau penculik. Orang tuanya kini sedang berada di luar kota pula jadi Ina sekarang sendirian. Tapi dipikir-pikir aneh juga kenapa perampok pake mengetuk pintu segala?
“Ina bukain pintu, ini aku dan Vira,” teriak Dita dari luar.
Ina mendesah pelan,setidaknya mereka bukan perampok tapi perusak pintu. Perlahan Ina memegang handle pintu dan-
Cklek
Aku dan Dita memelukknya erat sambil menangis tersedu-sedu.
“Kalian kenapa nangis gitu,” tanya Ina mengerutkan dahi, heran juga kenapa sahabatnya yang jahil ini tiba-tiba menangisinya. Drama Queen banget!
“Kamu baik-baik aja kan? Ga luka kan? Aku kira kamu meninggal,” ujar Dita sesenggukan.
“KURANG AJAR KALIAN! JADI KALIAN BERDUA KIRA AKU MENINGGAL? AKU SEKARANG SEHAT WAL’AFIAT. KALAU JAHIL JANGAN KETERLALUAN DONG.”
 Aku mencoba memberi penjelasan kepada Ina mengenai obrolanku dan petuah Kak Odhi mengenai foto selfie kami bertiga dan posisi Ina yang berada di tengah membuatku takut kalau terjadi petaka dan sialnya Ina menempati posisi tengah. Untung saja bukan aku.
Beberapa detik kemudian ekspresi Ina berubah drastis, ia tertawa terpingkal-pingkal hingga mengeluarkan bulir air mata. Aku dan Dita jadi bingung, apa Ina mulai gila ya?
“Hei Vira sejak kapan kamu jadi lugu begini! Kamu gak kapok ya sering  dibohongi Kak Odhi,” ucapnya masih tertawa namun dengan frekuensi lebih rendah.
“Kami juga panik Ina, kau tahu di sekolah ada murid kecelakaan ketika mau berangkat sekolah, sekolah belum meastikan siapa siswa kecelakaan itu. Belum lagi ditambah cerita dari Kak Odi yang pas banget sama sikonnya. Kita kan jadi ngeri sendiri,” sahut Dita berapi-api. Wah kayanya dita marah diketawain sama Ina kan biasanya kami yang ngetawain Ina.
“Astaga! Maafin aku, bukan maksudku buat sahabatku khawatir. Tapi seragam sekolahku gak tau hilang kemana, mungkin aja masiuh dibawa Mama ke laundry jadi ya aku ga sekolah mana orang tuaku ga ada lagi.
Dan buat Kaka Odhi, kayanya ia haruss dikasih pelajaran biar kapok! Sudah kalian jangan percaya lagi sama omongan Kak Odhi.”
“Maafin kelakuan konyol Kak Odhi ya? Nanti kita kerjain aja takut-takutin cicak biar histeris. Oh ya berhubung Ina baik-baik aja, Dita ayo kita kembali lagi ke sekolah dan menjalani hukuman dari Bu Anita karena sudah meninggalkan pelajarannya,” seruku mengajakknya pergi.
“Ah dihukum ya? Kan ga adil Ina bolos kita nggak,” jawabnya polos.
Sontak kami semua tertawa meratapi kekonyolan kami hanya gara-gara foto.
END


Cerpen - Bisik-Bisik Tetangga


Karya : Fanda Elvira Rosa
Cerpen Twist Ending


Kabut asap pagi ini lebih pekat dari sebelumnya, membuat matahari enggan menampilkan cahahanya di langit negeri berkepala Singa ini. Jalanan terlihat sepi. Gedung-gedung pencakar langit beberapa diantaranya tutup. Para penduduk berwajah Tionghoa juga sudah memakai masker. Aku yakin, mereka tidak terbiasa dengan bau pekat asap yang ada.

“Indonesia selalu saja membuat ulah. Setiap tahun Singapura selalu saja mendapat getah asap dari kebakaran hutan dari Indonesia. Beberapa penerbangan terpaksa harus ditunda hingga tiga jam lagi. Menyusahkan saja!” cibir salah seorang pria tambun berkulit putih pucat, aku tidak bisa melihat wajahnya jelas karena tertutup masker.

“Jangan keras-keras, wanita di ujung sana warga Indonesia. Bisa-bisa rumahmu dibakar karena ketahuan meledeknya,” bisik si wanita, merangkul mesra si pria tambun. Pasti kekasihnya.
Jarak kami terpaut satu meter. Benar saja aku bisa mendengar jelas pembicaraan mereka. Telingaku rasanya mengeluarkan asap meski tak kasat mata.

Meskipun tanganku terasa gatal untuk meninju mereka, namun kuurungkan niatku mengingat lebih baik menunggu kedatangan Antoni daripada melakukan hal bodoh di depan umum.

“Menunggu lama sayang?” sebuah suara yang sudah satu minggu kurindukan. Dia mencium keningku mesra seolah-olah Parkiran Bandara milik kami berdua.

“Tidak, baru beberapa menit saja. Syukurlah kepulanganmu dari Brunei tidak sampai ditunda tiga jam lagi.”

***

Ini pertama kalinya aku menjajakkan kaki di rumah keluarga Antoni, katanya dia ingin mengenalkanku sebgai pacarnya pada orang tuanya. Aku rasa hubunganku akan maju selangkah setelah ini.

“Jadi apa pekerjaan orang tuamu, Nak?” tanya Mama Antoni disela-sela kegiatannya sedang merajut.

“Kontraktor di daerah Riau, Tante.”

Mama Antoni mengangguk. Antoni sendiri hilang entah kemana setelah mengantarku ke ruang tamu, introgasi pertama calon mantu saat ini membuatku gugup!

“Siapa nama orang tuamu?” Papa Antoni mulai angkat bicara setelah sibuk menghisap cerutunya.

“Bintoro Siregar dan Fardain Siregar, Om.”

Papa Antoni mengerutkan kening, seolah berfikir lama mengingat sesuatu. Apa mereka mengenal orang tuaku? Kemudian matanya mendadak berkilat marah dan meninggalkanku.




DOOR!!

Rasa sesak menyelimuti dadaku, kali ini bukan karena pekatnya asap. Melainkan sebuah peluru tepat di bagian jantungku. Kuraba perlahan, darah segar sudah mengalir menembus kausku. Aku terpenrangah karena Papa Antoni telah menembakku.

“Rasakan kau Bintoro! Dengan begini kau akan tahu bagaimana rasanya kehilangan anak yang kau sayangi. Sekarang kita impas setelah membuat bayi kecilku meninggal akibat asap dan asetku habis kau bakar delapan belas tahun silam,” kata Papa Antoni tersenyum mengejek. Sementara Antoni dan Mamanya hanya diam membisu.

Dan kali ini aku salah membenci ulah negaraku hingga harus pindah kuliah di Singapura. Karena sejatinya, bukan negaraku yang salah. Melainkan para oknum jahat yang membuat negara tertangga mencibir. Salah satunya Ayahku sendiri, Bintoro.

SELESAI

Wednesday, 2 March 2016

Cerpen- Mistake Marriage[Desy Story]


Mistake Marriage Dhessy

Tunjukkan caraku tuk berjuang
Tuk kembali padamu saat kutemukan caranya
Selama ini kau terus disini
Seolah kau adalah cerminku
Cerminku yang membalas tatapanku

***
          Semuanya berlalu begitu cepat, tanpa kisah atau apapun. Intinya mereka saling suka .

          Dan pernikahan itu terjadi.
***
          “Rumahnya Indah.” gumam Dhesy masih terpesona akan rumah yang akan ditempatinya bersama sang suami.

          “Memang, aku sudah menabung jauh-jauh hariu umtuk membeli rumah masa depan kita.” Sahut Denny tersenyum bangga.

          “Benarkah? Bukankah kita bru-baru saja mengenal satu sama lain, bahkan kisah percintaan kita baru berumur jagung dan kita menikah,” jawab Dhesy ragu.

          “Oh ayolah sayang, kita baru sampai dan jauhkan pikiran negatifmu padaku.”

          “Baiklah...”
***
          Entahlah bagaimana menjelaskannya, hubungan pernikahan Dhesy seperti teh tanpa gula. Memang terlihat biasa. Tapi, jujur dalam lubuk hati Dhesy ada sesuatu yang aneh pada Denny.
Seperti ada sesuatu rahasia.

          Namun Dhesy belum mampu mencari jawabannya.

          “Aku harus keluar kota untuk beberapa hari. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan. Kamu nggak apa kan kalau harus aku tinggal?” tanya Deny disuatu pagi. Hari ini mereka sarapan seperti biasa sebelum Denny harus berangkat ke kantor.

          “Nggak masalah. Aku akan baik-baik saja di sini. Kamu hati-hati ya disana,” pesan Dhesy.

          “Iya sayang. Aku pergi dulu,” pamit Denny sebelum berangkat tak lupa dikecupnya kening Dhesy penuh kasih.

***
          Untuk mengisi rasa bosannya, pagi ini Dhesy berinisiatif membuat dekorasi baru untuk beberapa ruangan rumah barunya.

          Sebuah ruangan disebelah ruang kerja Denny membuatnya penasaran. Ada sebuah lemari kayu berukuran sedang menghalangi pintu ruangan tersebut. Mungkin saja ruangannya sengaja ditutup?
          Ah tapi Dhesy tidak mau berkutat terlalu lama dengan rasa penasarannya. Didiorongnya sekuat tenaga walau hanya bergeser sedikit namun setidaknya ada celah masuk.

          Dhesy takjub dengan apa yang diihatnya kali ini, semua ruangan rumah di sini mengalahkan keseluruhan kamar ini. Walpaper batik bunga kecoklatan menghiasi dinding-dingdingnya, dilengkapi dengan funiture yang sedikit berbeda. Sangat pas dan nyaman sekali di kamar ini. Ia jadi heran sendiri kenapa Denny tidak menjadikan kamar ini sebagai kamar mereka.

          “Ah, aku akan minta Denny untuk pindah ke kamar ini saja,” gumamnya senang. Ia bergegas kembali ke kamarnya dan memindah seluruh barang-barang ke kamar barunya ini.

          Malam harinya Dhesy sibuk membersihkan diri sebelum tidur. Diusapnya lotion pada kaki jenjangnya yang mulus, terkahir diusapnya lagi pembersih wajah. Ada sesuatu yang aneh ketika Dhesy bercermin, sinar putih menyilaukan matanya menampilkan sesosok wanita menyeramkan sedang melambaikan tangannya seolah menjangkau untuk keluar dari cermin. Dhesy begitu ketakutan. Refleks, ia menghancurkan cermin dengan genggaman tangannya hingga menjadi serpihan-serpihan kecil.

***

Keesokan harinya.

          Denny pulang lebih cepat dari perkiraan Dhesy sebelumnya. Lega rasanya ia tidak sendirian lagi dirumah. Semua uneg-unegnya ia sampaikan pada sang suami agar segera pindah rumah karena Dhesy merasa terancam.

          “Jangan berfikir yang tidak-tidak! Mungkin saja halusinasimu terlalu berlebihan! Kita tidak akan pindah rumah!” bentak Denny dingin membuat Dhesy tak mampu membatah. Dhesy kembali ke kamar misteri itu untuk mengambil beberapa barang dan begitu terkejutnya dia melihat kaca yang hancurkan semalam utuh seperti semula. Disentuhnya kembali cermin tersebut, wanita itu kembali muncul. Tanpa diduga seseorang mendorongnya dari belakang dan ditariknya Dhesy oleh wanita menyeramkan itu kedalam cermin.

          “Terima kasih kau menggantikan posisiku untuk saat ini, aku hanya ingin memiliki ragamu. Akhirnya penantianku terbayar sudah dan aku bisa hidup bahagia bersama Denny, suamiku,” ujar wanita menyeramkan tersebut kemudian bertukar roh dengan Dhesy. Keluarlah wanita itu dari cermin dalam wujud raga Dhesy yang sudah disambut oleh Denny yang sejak awal menjadikan Dhesy tumbal untuk ditukar dengan roh istrinya tanpa jiwa. Sementara Dhesy terperangkap dalam cermin sampai waktu yang tidak ditentukan.

END

Cerpen - Hitam Putih

Hitam Putih [FandaRosa]

Dua minggu yang lalu. Sudah ada tugas menunggu di depan mata, namun enggan kukerjakan. Membuat recount pribadi? Ah apalagi itu.

Tidak terlintas pengalaman satupun dalam benakku untuk diceritakan. Rasanya seperti mencari bulan ditengah awan gelap.

“Kau kan bisa membuat karangan tentang pengalaman liburan bersama keluargamu atau mendapat hadiah misalnya, itu kan hal mudah bagimu?” usul sahabatku.

“Tidakkah kau ingat aku sudah berhenti menulis karangan fiksi yang kau maksud. Lagipula aku enggan menulis sesuatu tentang keluarga,” jawabku datar.

Berkelana tanpa tujuan menyusuri waktu ketika aku menerawang. Saat kudengar lantunan lagu “selama aku masih bernafas.” Aku teringat sesuatu. Ku tuliskan  saja apa yang kuingat sebagai recount pribadi.

 Menulis recount pribadi tentang bertemu almarhumah membuatku mimpi buruk. Kuhapus semua tulisan dalam bukuku agar tak terbayang lagi. Dan beberapa hari kemudian aku menulis recount pribadi baru dengan judul

Hitam Putih.

Tuesday, 1 March 2016

Cerpen - You Really Love Him, Don’t You? [by. FandaRosa]

You Really Love Him, Don’t You?

Kini ku tak mampu lagi
Tuk ikuti caramu
Hanya membuatku sakit hati
Kini ku tak mau lagi
Jalanmu bukan jalanku
Dan kau telah memilih

***

Sofia sedang berdiri di ujung lorong kelas IPS,menunggu Andy. Sedangkan Andy, berdiri di depan pintu kelasnya sendiri. Jaraknya dua ruang kelas dari sini. Mengenakan jaket dan membawa tas ranselnya.

Sofia menatapnya, menungggu dia untuk mendongak.

Saat mendongak, mata mereka saling bersitatap. Kemudian Andy melengos pergi tanpa menyapa Sofia. Ternyata Andy benar-benar marah padanya.

“Andy!” panggilnya, Andy menoleh seketika.

“Apa?” jawab Andy ketus.

“Kamu salah faham Dy, kejadian sebenarnya nggak seperti yang kamu kira. Coba kamu dengerin penjelasan aku dulu,” ujar Sofia namun Andy tak menghiraukan.

“Aku capek dengerin kamu terus, aku capek bertengkar terus sama kamu tahu nggak? Dasar egois!” ungkap Andy.

“Apa kamu bilang? Aku egois? andai kamu tahu aku lebih capek jadi posisi seperti ini. Kamu kira hubungan kita itu layangan? Bisa kamu tarik ulur sesuka hatimu. Coba kamu lihat dirimu dulu!“ suara Sofi naik satu oktaf. Dadanya bergemuruh. Bagaimana bisa Andy berkata demikian?

Andy mendengus. Sementara Sofi hanya menghembuskan nafasnya perlahan. “Jika kita memang hanya bisa menyakiti satu sama lain. Mungkin jalan kita untuk bersama tak mungkin lagi bisa dijembatani. Sebaiknya kita akhiri saja hubungan ini.”

“Maksud kamu putus?” tanya Andy memastikan.

Sofi mengangguk.

 “Dengarkan aku!” suara Andy berubah sehalus beludru. Bernada membujuk. “Jangan membuat keputusan selagi emosimu menguasai pikiranmu.”

Sofi mengeleng-gelengkan kepalanya pelan. Sepertinya ia tidak menyadarinya. “Itu yang terbaik. Aku harap setelah ini kita bisa menjadi teman baik,tanpa melibatkan perasaan satu sama lain.” jawab Sofi, mengarahkan perhatiannya pada ekspresi Andy yang terlalu terkejut.

Terdengar langkah-langkah Sofi yang berat menghantam ubin marmer yang keras. Beberapa detik kemudian  ia sudah menghilang dari hadapan Andy.

***

Diketukknya  pulpen diatas buku kimia yang terbuka lebar.

Pikirannya masih melayang jauh ke Sofi

Dia bilang kita bisa jadi teman baik,tanpa melibatkan perasaan satu sama lain. Jadi, mereka sekarang cuma teman?

Andy menghela nafas pelan. Entah mengapa ini begitu menyebalkan.

“Kenapa sih lo? Galau amat.”

Andy menoleh.

Cowok tengik ini lagi, Handoko Dwi Putra. Namun maunya dipanggil Roy, aneh kan?

Andy hanya tersenyum kecil menanggapi perkataannya.Dan Handoko alias Roy kembali menyembunyikan wajah kantuknya dengan buku kimia yang terbuka lebar agar menghalangi Pak Suryo saat mengajar.

“Jangan lupa PPnya, alias pajak putus!”  bisik Roy dihadiahi jitakan beruntun dari Andy.

***

“Yang aku inginkan hanya hidup tenang tanpa ada dirinya,untuk saat ini tanpa dirinya. Hidup tanpa warna dan hambar seperti sebelum bertemu dengannya yang jauh lebih baik dibandingkan hidup dipenuhi warna dan rasa tapi membuatku tersiksa.

Tapi apa iya aku mau kembali ke hidupku dulu? Hidupku tanpa dirinya,setelah dia memberikanku berbagai rasa yang tidak hanya sakit namun juga bahagia?”
(Precious_unicron91)

***

Aku tahu. Aku memang tidak yakin dia mau mendengarmu, tapi... kau tetap harus berusaha . keadaannmu sudah lebih baik?” Yura mendesis, melihat sahabatnya mulai bergumam sendirian saat duduk di tepian gazebo. Ternyata tatapannya tertuju pada kiper bola, Andy.

Suara dan mata Sofia hampa. “Semakin parah,” desahnya. Kemudian ia bangkit dari duduknya ketika mendengar bel berbunyi. ”Mari kita masuk kelas.”

Andy dan teman-temannnya mulai mundur dari lapangan menuju kelas. Sebelum mereka masuk kelas, Sofia sudah berbalik dan berlari ke barat menghindari lorong utama yang sering dilalui Andy. Meninggalkan Yura yang masih terbengong-bengong.

***

“Dasar cewek gesrek, main ngibrit aja gue ditinggal,” gerutu Yura masih dongkol mengingat kelakuan Sofia beberapa menit yang lalu.

“Yaaaahh sory deh, tadi kan udah bel masuk. Tau sendiri kan bentar lagi jam pelajaran Ekonomi. Udah ah ngomongnya gurunya dateng tuh!” kata Sofia sambil mengarahkan dagunya kearah pintu.

Yeah memang benar

Suasana kelas mendadak sunyi. Dua kipas angin mendadak berhenti berputar.

“Suatu ketika bla...bla...bla...” dan mengalirlah penjelasan guru satu ini dalam kalimat-kalimat ringkas yang sudah pasti membuat gelak tawa seisi kelas.

 “Ck! Gue gak mau tau lo masih utang penjelasan sama gue.”

“Iyeh Mpok Yure entar diceritain kronologisnye, tapi traktir bakso ya istirahat kedua?” goda Sofia dengan lagak betawinya yang dibuat-buat.

Yura berdecak pelan.”Okelah nggak masalah,mau berapa mangkuk pun gue jabanin deh.”

Sofia merenggut kesal. “Dasar belagu!” Yura yang mendengar cibiran sahabatnya terkekeh pelan.

***

Asap mengepul dari mangkuk bakso bergambar ayam jago pesanan Sofia. Kemudian disusul dentingan suara garpu dan sendok sedang beradu saat ia mengiris lontong menjadi bulatan kecil.

“Mana sambelnya Pakdhe?” teriak Sofia sudah tak sabar, mumpung gratis.

“Dasar mantan preman, nggak usah pake teriak! Tuh sambel udah di sebelah lo, katarak ya?” cibir Yura.

Sofia mendesis,mencondongkan tubuhnya ke samping mengambil sambel dituangkan dua sendok sambal ke dalam baksonya. Kemudian ia tak berbicara apa-apa lagi.

Beberapa menit kemudian isi bakso sudah tandas sekarang perutnya kenyang sekaligus hatinya senang.”Yura, Trims.”

“Cepet cerita Sofia!!!”

“Eh? Masih inget aja.Sebenarnya itu gue sama Andy udah putus. Dia cemburu lagi waktu gue sms temannya. Rencananya sih mau bikin kejutan ulang tahunnya.Tapi... ya begitulah lagi-lagi dia gak mau dengerin penjelasan gue, malah ngatain gue egois.”

“Andy tau dari mana lo sms sama cowok lain?” kata Yura menginstrupsi.

“Ehm-” belum sempat Sofia melanjutkan ceritanya terdengar gelak tawa beberapa kumpulan siswa yang ia kenal. Sofia buru-buru pamit meninggalkan kantin.

Perlahan tapi pasti bayangan Sofia mulai menghilang dari kerumunan kantin yang penuh sesak. Berselang beberapa detik, rombongan Andy memasuki kantin.

Pantas saja Sofia buru-buru pergi.

“Andy!” panggil Yura.

“Ada apa?”

“Jadi lo lebih suka pesimis dan berdiam saja daripada memperbaiki hubungan kalian. Cobalah kalian mau mendengarkan dan memahami apa yang hati kalian inginkan satu sama lain. Masih sayang nggak sama Sofia? Gue pergi dulu!”

***

Sepulang sekolah, Andy dan Sofia saling berhadapan meski terbentang jarak  yang  jauh. Andy bergegas berlari menghindari kejaran teman-temannya yang ramai-ramai membawa telur dan terigu dalam genggamnnya. Andy terlihat lelah berdiri di beranda sekolah, diapit Tommy dan Roy.

Sebenarnya Sofia berniat meninggalkan sekolah, namun diurungkan niatnya ketika logikanya kalah dengan rasa penasaran sekaligus..kangen?

Terdengar alunan gitar dalam kerumunan Andy. Sofia masih memantau dari jarak jauh mungkin menyanyikan lagu “Happy Birthdays”

Sofia memperlambat langkahnya untuk pergi, Andy mendengking pelan memanggil namanya. Ragu –ragu Sofia berbalik.


Kan ku utarakan kepadamu
Semua yang ada dihatiku

Andy kemudian bernyanyi, dibiarkannya pikirannya mengingat lagi konfrontasinya dengan mantan kekasihnya beberapa hari lalu.Sofia ingat saat pertemuan pertamanya di hari pertamanya masuk ke dalam relung hatinya.

Aku mencintai kamu
Kan kusayangi kau sampai akhir didunia

Dan saat itu dia menggandeng tangannya pertama kali.

Dan kujadikan kamu wanita
Paling bahagia di seluruh dunia
Karena kamulah satu-satunya.

Ada gelnyar aneh dalam yang tak bisa diungkapkan Sofia.
Mengingat cara Andy tersenyum, nafasnya mendadak tersendat.

Jadi terimalah oh cintaku
Jangan kau patahkan hatiku

Saat itu entah kenapa Sofi teringat saat Andy menyatakan perasaanya.

Aku menicntai kamu

Dengarkan janjiku

Kan kusayangi kau sampai akhir dunia

Dan ku jadikan kamu wanita

Paling bahagia di seluruh dunia

Karena kamulah satu-satunya

Kan kusayangi kau sampai akhir dunia

Dan ku jadikan kamu wanita

Paling bahagia di seluruh dunia

-Armada-

          “Aku tidak tahu. Aku tidak bisa mempercayaimu Andy,aku bahkan tidak bisa mempercayai diriku sendiri saat ini. Aku tidak tahu mana yang harus aku dengar, otak atau hatiku.

Sebagian hatiku, belum bisa menerima permintaan maafmu. Meskipun aku tahu kamu jujur dan tulus saat mengatakan semuanya,” Sofia mengusap air matanya secara kasar. Ia tak mau terlihat kalah di depan mantan kekasihnya ini.

“Aku masih ingat dengan jelas senyum kamu,tawa kamu, suara kamu, dan tangisanmu,” Andy mengusap bulir-bulir air mata Sofia. Ia menghela nafas sebentar. “Saat aku tahu kamu udah nggak bersamaku lagi, aku selalu berharap semua itu cuma mimpi. Aku berharap di saat terbangun, kamu ada disisi aku dan berkata kamu nggak akan pernah ninggalin aku. Kamu mau kita balikan lagi?” ungkap Andy nyaris berbisik namun membuat air mata Sofia semakin deras.

Sofia menatap rerumputan di hadapannya yang bergoyang lembut. “Tapi sekarang aku sadar, ternyata kamu benar. Selama ini kamu selalu menunggu aku. Dan pada saat aku sadar, aku nggak bisa menghentikan rasa sayangku ke kamu.”

Riuh tepuk tangan teman-teman yang awalnya ingin menghujani Andy tepung beralih menjadi tontonan gratis roman picisan membuat semunya envy.

“Dan untuk Roy kutu kupret,” ujar Andy memasang ekspresi segarang mungkin yang terlihat dibuat-buat.

“Aku sudah banyak membantu sahabatku,” Roy memelas sudah tahu apa yang terjadi selanjutnya.

“Hai teman-teman, mau aku traktir nggak?” teriak Andy tiba-tiba.

“MAUUUUU.” jawab semuanya kompak.

“Boleh minta satu permintaan? Berhubung Roy yang menjadi kambing hitam dibalik putus sekaligus nyambungnya hubungan  kami, Please. Telur sama terigu kalian alihkan aja ke Roy ya?”

“SIAPP BOSS.”

“Aku masih nggak ngerti, apa maksudmu Roy deketin aku biar kamu cemburu gitu?”

“Seperti itu.” ucap Andy acuh meninggalkankan semua teman-temannya. “Yuk pulang!”

“Tapi – “ Sofia mendadak bungkam saat tangan hangat Andy sudah menggenggam tangannya. Ia tersenyum simpul melihat hubungan mereka kembali baik-baik saja. Yura mengedipkan matanya ketika kami sempat berpapasan dengannya, aku tahuarti kedipan itu. Thanks Yura udah bantuin aku. Sekarang aku percaya kata-kata Yura yang sempat membuatku selalu menyangkalnya.

“Percaya deh,bakal dateng saatnya lo akan ketemu dia yang PAS banget sama lo. Lo bisa bener-bener jadi diri lo tanpa rasa jaim dan dia bakal terima lo. Yang pasti  selama lo percaya diri dan jadi diri lo sendiri, dia bakal dateng tanpa lo cariin.” Begitulah kata Yura yang masih diingat Sofia.

END

@dedikasi story untuk SOfia- anDY
Sekedar cerita mini pengisi waktu insomia disaat mendengarkan lagu perpisahan sekaligus perjuangan sepasang kekasih untuk menyusun kembali kepingan kenangan lagi untuk bisa bersama kembali. Hanya itu. Salam manis J

20/05/2015
1:23
Revisi
11/12/15

05:03